Thursday, November 16, 2017

Jejak Petualang Ke Festival Way Kambas 2017

Majalah Lampung - Festival Way Kambas 2017. Minggu lalu tepatnya tanggal 11 sampai 13 november, Lampung Timur menggelar acara yang spektakuler bertajuk festival way kambas 2017. 

Festival yang diselenggarakan tiap tahun ini memang sudah cukup populer di Lampung bahkan cukup banyak warga tanah air yang sudah mengenalnya. 

Jika kembali mengintip penyelenggaraanya di tahun lalu tentu masih ingat dengan keramaian festival ini, bahkan sampai terjadi kemacetan panjang sebelum sampai ke lokasi pusat konservasi gajah (PKG) yang menjadi titik pusat penyelenggaraan acara.

Festival Way Kambas
Keseruan tim jejak petualang way kambas (foto by @rizki_ewok)

Pada tahun ini terdapat salah satu kegiatan yang bernama jejek petualang way kambas. Jika mendengar nama jejek petualang mungkin anda terbayang salah satu acara stasiun tv swasta yang menayangkan acara jejak petualang. 

Namun di festival ini bukanlah acara tersebut, melainkan jejak petualang oleh beberapa anggota Genpi Lampung dan Komunitas Tapis Blogger serta fotografer asal Lampung. 

Nah pada kesempatan jejak petualang ini salah seorang tim Majalah Lampung berkesempatan untuk berpetualang bersama mereka.

Lalu apa saja yang dikunjungi oleh tim jejak petualang way kambas ini? Ada beberapa tempat yang dikunjungi diantaranya Suaka Rhino Sumatera (SRS), Pusat Konservasi Gajah, dan Desa penyangga TNWK yaitu Dusun Margahayu. 

Selain itu juga tim jejak petualang way kambas ini mengikuti dan melihat beberapa rangkaian acara seperti pawai budaya, festival kuliner, dan mengunjungi stand souvenir.

Berkunjung Ke SRS, Tempat Dikonservasinya Badak Sumatera

Selain gajah Sumatera, saat ini TNWK juga sedang fokus dalam upaya pelestarian badak Sumatera. Hal ini karena jumlah populasi badak Sumatera saat ini cukup menghawatirkan. 

Jika merujuk pada IUCN (International Union Conservation Of Nature And Resource) badak Sumatera berstatus terancam punah. Dalam hal ini kita bisa mengartikan bahwa jumlahnya di alam liar sangat-sangat sedikit.

Festival Way Kambas
Harapan (foto by @wawan_syafus)

Jumlah badak yang ada di SRS TNWK ini yaitu 7 ekor (Harapan, Andatu, Andalas, Rosa, Bina, Ratu dan Delilah). 

Di kesempatan yang terbilang cukup langka ini tim jejak petualang hanya diperbolehkan melihat salah satu badak saja yaitu Harapan. 

Kenapa tim tidak boleh melihat semuanya, menurut pengelola SRS untuk menjaga kondisi badaknya agar tidak terganggu oleh keramaian sehinga nantinya stres. 

Karena badak mempunyai sensitifitas yang tinggi terhadap kedatangan orang asing dan adanya keramaian.

Harapan merupakan badak yang lahir pada tahun 2007 di kebun binatang Cincinati, Amerika Serikat. Harapan didatangkan ke Indonesia dengan 3 moda transportasi yaitu darat, laut dan udara. 

Total perjalanan yang dilalui Harapan untuk sampai di Lampung yaitu 10.523 mil dengan menghabiskan waktu 53 jam. Harapan beradaptasi dengan baik sejak tiba di SRS, sampai saat ini kondisinya masih baik.

Ikut Keseruan Pawai Budaya

Salah satu kegiatan yang menyedot banyak perhatian adalah pawai budaya. Acara ini menjadi ajang promosi budaya dari 24 kecamatan se Lampung Timur. 

Para peserta menghias diri dan rombongan untuk tampil seapik dan seunik mungkin agar menjadi pemenang. 

Tim jejak petualang way kambas pun asik mengikuti pawai ini dengan berselfie ria bersama peserta. Titik start pawai budaya ini berada di sekitar perkantoran PKG dan finish di panggung utama.

Festival Way Kambas

Kesruan pawai budaya (foto by @ulilamri234)

Melihat Kreatifitas Souvenir Lampung Timur

Salah satu kegiatan perlombaan yang ada di festival way kambas ini adalah lomba kreasi souvenir. Tim jejak petualang pun tak kelewatan mampir di stand para peserta untuk melihat-lihat. 

Berbagai macam karya mulai dari memanfaatkan barang bekas sampai kreasi bernilai tinggi ada disini. Ada juga beberapa pakain adat hasil jahitan masyarakat yang dipamerkan di salah satu stand.

Salah satu pemanfaatan limbah kayu yang dijadikan patung badak (foto @wawan_syafus)

Menimati Sunset di PKG TNWK

Salah satu tempat yang cukup fotogenik di way kambas adalah di area kandang gajah di PKG. Di tempat ini adalah tempat gajah jinak di way kambas ditangkarkan. 

Bagi yang ingin mengambil gambar gajah memang ini adalah lokasi yang tepat, namun tetap dalam pengawasan pawang gajah. 

Di waktu menjelang matahari terbenam langitnya terlihat sangat cantik dengan warna jingga kemerahan. Tim jejak petualang way kambas pun mengambil banyak foto disini, apalagi ada 3 fotografer handal asal Lampung yaitu Bang Eka Efendi, Bang Endang Guntoro dan Bang Rizki Ewok.


Foto bersama oleh tim jejak petualang di PKG (foto @ekaefendiaspara_aliwa)

Melihat Sisi Lain Way Kambas Dari Dusun Margahayu

Salah satu wilayah perkampungan masyarakat yang berbatasan langsung dengan TNWK adalah Dusun Margahayu. 

Tim jejak petualang way kambas diajak ke desa ini untuk bermalam dan dilanjutkan eksplore keesokan paginya ke ERU (Elephant Respont Unit)

Sampai di dusun ini tim sudah disambut oleh Bang Yopie (Keliling Lampung) di rumah konservasi Himbio (Himpunan Mahasiswa Jurusan Biologi FMIPA Unila).

Tak lama, tim diajak ke rumah bapak Nandar ketua pokdarwis (kelompok sadar wisata) Dusun Margahayu untuk menikmati jamuan makan malam. Dengan suasana yang khas pedesaan tim menikmati malam setelah seharian di PKG.

Dusun margahayu ini merupakan dusun terdekat dengan TNWK dan menjadi desa penyangga. Disini terdapat salah satu potensi wisata yaitu perjalanan ekowisata melihat gajah liar dengan rute dari dusun ke camp ERU. 

Saat ini masyarakat melalui pokdarwis sudah mengelolanya menjadi paket wisata. Bahkan dalam perbincangan saat itu, mereka sudah merencanakan akan membuat pasar karetan atau pasar kaget di area perkebunan karet milik masyarakat Dusun Margahayu.

Main Ke Camp ERU Margahayu

Setelah bermalam, pagi harinya tim diajak untuk mengunjungi Camp ERU Margahayu. ERU merupakan sebuah camp yang berisi gajah jinak dan pawangnya untuk menangani konflik antara gajah liar dan masyarakat sekitar TNWK.  Sebenarnya tak hanya sebagai menangani koflik, ERU juga melakukan patroli gajah dan breeding gajah.

Jarak camp ERU dari Dusun Margahayu ini sekitar 3 km dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam. Meski saat itu cuaca panas, tapi pemndangan hutan TNWK menjadi penyejuk mata tim jejak petualang way kambas saat itu.

Tim berselfie di depan camp ERU (foto by rizki_ewok)

Sampai di camp ERU salah seorang pawang gajah memberikan penjelasan seputar camp ERU kepada tim. Pak Sakipul Mustofa menjelaskan tugas-tugas ERU, jumlah gajah di ERU, luasan dan jumlah pawang serta lainnya. 

Beliau juga menekankan bahwa camp ERU bukanlah tempat wisata, jika memang ada pengunjung itupun harus satu pintu dari pokdarwis Dusun Margahayu dan dengan konsep small tourism untuk tetap menjaga kelestarian kawasan TNWK.

Setelah briefing tersebut tim diajak untuk memandikan gajah. Gajah bernama Mely bergiliran dimandikan oleh tim jejak petualang way kambas. Setelah selesai dimandikan, beberapa anggota tim jejak petualang way kambas ini diajak menunggangi gajah mengelilingi area camp ERU.

Setelah puas, tim pun kembali ke homestay di Dusun Margahayu. Sampai disana tim disuguhi makan siang yang jarang dijumpai di kota yaitu "sego tiwul" (nasi tiwul) buatan warga Dusun Margahayu. 

Setelah selesai menyantap, tim mengakhiri perjalanan jejak petualang festival way kambas 2017 ini dan kembali menuju Kota Bandar Lampung untuk kemudian kembali ke kediaman masing-masing.
1 comment:
Write comments
  1. Lengkap tulisannya dr baru dateng ke srs sampai ke camp ERU... Kecee badai.. Jd kpengen balik lg ksana

    ReplyDelete

Join Our Newsletter