Monday, July 9, 2018

Menelisik 6 Sejarah Gamolan Lampung Atau Cetik (G Pekhing)

Majalah Lampung – Tak banyak data mengenai sejarah gamolan Lampung atau cetik dan atau gamolan pekhing si alat musik tradional Lampung yang terbuat dari bambu ini. Perjumpaan dengan alat ini pun susah, penggunannya hanya pada acara-acara tertentu saja. Sampai kini belum ada komunitas yang bisa ditemui oleh tim Majalah Lampung untuk dimintai keterangan terkait asal- usul, sejarah dan juga data terkait yang bisa ditelisik.

Sejarah Gamolan Lampung

Namun kami telah membuat beberapa tulisan terkait gamolan Lampung ini yakni makalah gamolan Lampung, bahan baku dari gamolan Lampung, langkah membuat gamolan Lampung. Dan, kini tim membuat sebuah ulasan singkat mengenai sejarah gamolan Lampung dari hasil penelusuran publikasi jurnal Patanjala Vol. 9  No. 1 Maret  2017: 95-110  yang ditulis oleh Yuzar Purnama  dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat.

Disebutkan bahwa  gamolan Lampung atau cetik dan atau gamolan pekhing adalah alat musik yang berasal dari Provinsi Lampung hususnya Kabupaten Lampung Barat. Pengrajin cetik di Provinsi Lampung jumlahnya relatif tidak banyak, mereka tetap menggeluti pekerjaan tersebut walaupun hasilnya tidak mencukupi.

Sama halnya dengan angklung dan gamelan di Pulau Jawa, cetik merupakan warisan budaya leluhur berbentuk alat musik. Bedanya mungkin pada pemerhati yang kemudian bisa menjaga eksistensi serta merawatnya. Jumlah pengarajin di Pulau Jawa sana memang bisa dikatakan lebih banyak dan aktif. Begitupun dengan instansi atau lembaga terkait pendidikan dan budaya.

Namun, cetik asli  tetap dipertahankan dan dilestarikan. Pengrajin cetik harus begulat antara kebutuhan hidup dengan tanggung jawab sebagai penerus leluhur untuk melestarikan warisan budaya. Perjuangan hidup pengrajin cetik yang dilematis menciptakan etos kerja yang dapat diadopsi oleh generasi penerus bangsa.  

Sejarah Gamolan Lampung Cetik Lampung Gamolan Pekhing

Diperkirakan Sudah Ada Sejak Abad Ke Empat 
Beberapa pakar mencoba memperkirakan awal mula atau sejarah mengenai cetik atau gamolan pekhing ini. Ada yang menyebutkan bahwa cetik ini sudah ada dan dimainkan oleh masyarakat Lampung kuno pada abad ke 4

Kendati demikian sebagian masyarakat Lampung tidak mengetahui dan mengerti tentang sejarah cetik ini, sehingga mungkin saja ini menjadi salah satu penyebab perkembangan cetik pada awal mulanya tidak berjalan dengan baik. 

Perkiraan Lain Dibawa Oleh Kerajaan Sriwijaya

Ada yang memperkirakan bahwa gamelan yang tumbuh kembang di Pulau Jawa yaitu gamelan pada kesenian tradisional Jawa dan kesenian tradisional masyarakat Sunda merupakan pengembangan dari cetik atau gamolan pekhing yang dibawa bersama masuknya Sriwijaya pada Dinasti Syailendra.

Terbukti bahwa kedua instrumen ini memiliki kesamaan dalam bentuk, bahan  yang digunakan yang berbeda.  Ada pula yang memperkirakan bahwa gamelan-lah atau gamelan yang tumbuh kembang di Pulau Jawa yang menjadi inspirasi dibuatnya cetik/gamolan pekhing. 

Gamolan Lampung Atau Cetik Terispirasi Dari Gamelan Jawa

Ada pula yang memperkirakan bahwa gamelan-lah atau gamelan yang tumbuh kembang di Pulau Jawa yang menjadi inspirasi dibuatnya cetik/gamolan pekhing. 

Peneliti Autralia: Gamolan Lampung Lebih Tua Dari Gamelan Jawa

Seorang peneliti asal Australia berpendapat alat musik gamolan ini sudah ada dan lebih tua dari gamelan. Hal ini terbukti dengan ditemukannya gambar gamolan pada relief candi Borobudur. Gamolan modern yang dapat ditemui di Lampung Barat dan Way Kanan, memiliki perbedaan dibandingkan dengan gamolan kuno. 

Perbedaan Gamolan Lampung dengan Gamolan Jawa

Jika ditelisik dan dilihat tentu ada perbendaan antara gamolan Lampung dan Gamelan Jawa. Dari bahan yakni gamolan berbahan bambi sedangkan gamelan Jawa dari logam. Selain itu adalah adanya perbedaan Gamolan modern yang dapat ditemui di Lampung Barat dan Way Kanan, memiliki perbedaan dibandingkan dengan gamolan kuno. 

Gamolan kuno memiliki delapan bilah bambu yang sejajar di atas satu bongkahan bulat bambu sebesar sekitar lengan orang dewasa. Delapan bilah bambu masing-masing mewakili delapan tangga nada, yaitu do re mi fa so la si do. Sementara, gamolan modern hanya memiliki tujuh bilah bambu yang mewakili tujuh tangga nada.

Gamolan Lampung Era 1990an

Alat musik cetik sekitar tahun 1990 hanya dipakai sebagai perlengkapan upacara adat dan sebagai alat musik dalam menyambut tamu. Alat musik ini nyaris tidak digunakan dalam kegiatan-kegiatan lain selain dua kegiatan tersebut. 

Gamolan Lampung Kini 

Kini memang jumlahnya tidak banyak, hal ini karena jumlah pengrajinnya tak banyak. Selain itu berkaitan dengan peminat, dimana kaula muda dan masyarakat Lampung bisa dikatakan masih asing dengan gamolan Lampung atau Cetik ini. Bahkan untuk etnis atau suku non Lampung yang tinggal di provinsi ini tak banyak yang mengenal dan atau pernah mendengarnya.

Dari sekelumit data mengenai sejarah gamolan Lampung atau cetik atau juga gamolan pekhing ini semoga kedepannya alat musik tradisonal Lampung ini tetap eksis di masa mendatang. Sangat disayangkan jika memang harus hilang karena tak adanya yang bisa membunyikannya dimasa mendatang.

Demikianlah informasi terkait sejarah gamolan Lampung atau cetik dan atau gamolan pekhing. Semoga bisa menjadi referensi untuk anda. 
No comments:
Write comments

Join Our Newsletter